Perilaku Merokok dan Masalah Psikologis Kejiwaan

Fatwa haram rokok sudah lama keluar, tapi apakah ada pengaruhnya terhadap jumlah perokok di Indonesia, terutama yang muslim?? Yang saya lihat dan rasakan, fatwa itu tidak berpengaruh terhadap para perokok. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Hal ini yang membuat saya berpikir bahwa masalah rokok ini tidak hanya harus dipandang dari aspek keagamaan, misalnya dengan fatwa larangan merokok bagi umat Islam.

Nyatanya, dimana-mana masih saja orang-orang merokok. ROKOK TIDAK MENGENAL SARA. Hampir dari segala kalangan pasti ada yang merokok, yang membuat rokok tidaklah eksklusif. Hal ini juga yang sebenarnya membuat rokok jauh lebih berbahaya daripada narkotika atau minuman beralkohol. Tidak perlu harus punya uang banyak untuk bisa merokok, beda dengan narkoba yang harganya relatif mahal. Rokok sangat populer dan penyebarannya sangat bebas, bisa dibeli di warung pinggir jalan sampai hotel mewah. Indonesia sepertinya menjadi surga para perokok, karena akses untuk rokok dibebaskan sebebas-bebasnya. Yang paling miris adalah maraknya berita anak-anak balita yang keranjingan merokok. Siapa yang salah? Bisa banyak pihak yang salah, tapi yang paling bertanggung jawab akan hal itu pastinya adalah orang tuanya.

Kembali lagi ke masalah rokok yang nggak mempan diselesaikan dengan cara agama, perilaku merokok lebih kepada masalah psikologis masing-masing personal manusia. Walaupun ada fatwa haram merokok, tetap saja ada muslim yang merokok, sangat banyak malah. Apakah fatwanya salah? Bukan, bukan fatwanya yang salah, tapi ternyata racun rokok lebih merasuk dan meracuni dalam jiwa seorang perokok dibandingkan kesadaran spiritualnya. Ah, sepertinya tidak salah penyair legendaris Indonesia, Taufik Ismail, menyatakan dalam puisinya bahwa rokok itu adalah tuhan 9 cm.

Di negeri ini, jamaah pengajian merokok. Panitia pengajian tempat para jamaah itu mengaji pun merokok. Bahkan kiai yang diundang untuk ceramah pun merokok. Bagaimana orang-orang yang mengaji kepada kiai itu tidak ikut merokok kalau kiai panutannya saja merokok?? Di negeri ini, anak-anak balita merokok, anak-anak SD merokok, anak-anak SMP merokok. Mereka sejak kecil berada di lingkungan perokok, dan terbiasa menghirup asap rokok. Bapak mereka merokok, kakak mereka merokok, tetangga mereka merokok, bahkan guru mereka juga merokok. Jadi, sepertinya tidak aneh kalo bocah-bocah itu merokok, lah wong dari kecil mereka udah menghisap asap rokok, melihat orang-orang terdekat mereka, yang harusnya diteladani oleh mereka, merokok di depan mereka.

Rasanya ironis (dan bodoh) kalo ada orang tua (bapak dan/atau ibu) yang merokok, dan tidak mau kalau nantinya anaknya merokok. Apalagi kalau dari kecil si anak sudah jadi korban asap rokok bapak dan/atau ibunya. Anak kecil kan menyerap dan mencontoh sebanyak-banyaknya dari lingkungan sekitar dia. Ya jadi wajar aja kalo ada bocah balita yang udah merokok, lah wong bapaknya aja merokok dan mencontohkan pada anaknya.

Saya pun prihatin juga melihat ada orang yang harusnya mengerti tentang agama, udah naik haji, berkali-kali malahan, tapi masih aja merokok dengan santainya. Dengan dalih merokok hanya makruh mereka dengan bebasnya merokok. Padahal makruh sekalipun itu artinya adalah perbuatan yang dibenci Allah. Jadi, tidak ada pembenaran dari segala aspek pun untuk merokok, selain psikologis dan sugesti tiap orang (terutama perokok) yang menganggap merokok itu baik bagi mereka.

Jadi, saya simpulkan bahwa masalah rokok lebih kepada masalah psikologis tiap-tiap orangnya saja. Walaupun sekuat dan setinggi apapun ilmu agama atau ilmu pengetahuan atau ilmu kesehatan seseorang, kalau misalnya alam bawah sadar dan hatinya menganggap bahwa merokok itu benar dan baik untuk dirinya, ya mereka akan tetap merokok. Singkatnya, merokok adalah masalah kejiwaan.

Lalu, para perokok perlu dibawa ke psikiater atau ahli kejiwaan donk???? Mungkin….πŸ˜›

    • yudha
    • June 24th, 2010

    setau gw orang yang mau berenti ngerokok emang ada yang sampe yang dateng ke psikolog ato psikiater gitu buat ngebantu dia berenti.. huehehe..

    • emang yud…bener banget itu…mereka emang sakit, makanya harus dibawa ke ahli kejiwaan (psikiater), hehe

  1. masalah rokok yang nggak mempan diselesaikan dengan cara agama…

    kalau diamat – amati, sih ini adalah premis awal dari tulisan anda sebelum menggiring pada penyimpulan ke arah problematik psikologis yang anda paparkan bukan?

    hmm, saya tidak melihat bahwa fatwa haram merokok adalah solusi ataupun penyelesaian untuk masalah apapun sih, yang saya lihat, fatwa haram merokok adalah justru sebuah aksi dari sisi agama untuk mencuatkan permasalahan baru antara agama dan rokok, sangat naif saya rasa mengatakan bahwa ketika sebuah fatwa haram diluncurkan hal tersebut adalah solusi dari masalah, karena sebelum fatwa haram tsb diluncurkan, maka hal tersebut sebelumnya tidak dianggap haram, dan tidak bermasalah…πŸ˜›

    • Nah, sebenarnya ketika saya mendapatkan inspirasi menulis tulisan ini, berangkat dari keprihatinan melihat orang-orang yang mengerti Islam, tapi tidak menghiraukan fatwa haram rokok itu. Makanya, di awal tulisan ada pernyataan itu.

      Memang fatwa haram merokok bukan solusi sih, tapi saya mengharapkan dengan timbulnya fatwa itu setidaknya jumlah perokok berkurang secara signifikan. Nyatanya, tidak.

      Kenapa akhirnya menuju ke aspek psikologis, karena itulah tujuannya, hehe…

      • ketika kita bicara fatwa, saya rasa kita bicara sebuah dimensi yang sangat luas… karena sesama umat taat pun satu sama lain berbeda dalam menyikapi fatwa… setau saya sejauh ini hukum fatwa bukanlah sebuah hukum yang kuat dalam Islam…

        tidak ada keabsolutan dalam hukum fatwa… kalau anda expect orang akan menuruti fatwa secara serta – merta, saya sendiri meragukannya, sepanjang sejarah Islam setahu saya fatwa adalah hukum dengan kekuatan lemah dan cenderung dapat diperdebatkan karena sumbernya juga adalah argumen manusia lain, meskipun labelnya adalah alim ulama…

        maka dari itu, saya rasa fatwa haram rokok itu tidak akan berpengaruh banyak, jangankan di negara kita yang kebanyakan Islam-nya adalah Islam abangan, di negara tetangga kita yang Islamnya lebih keras saja fatwa belum tentu dituruti…

        btw, saya cukup tertarik dengan sikap anti rokok anda, memangnya ada apa bung? trauma masa kecil? atau ada sebuah alasan kah kalau saya boleh tau?πŸ™‚

      • Saya agak setuju dengan pernyataan anda… dan memang kenyataannya kekuatan fatwa sangat lemah di negara ini…

        Errr… alasan saya bersikap anti-rokok sebenarnya simpel. Saya tidak peduli apa alasan orang-orang merokok, yang menjadi concern saya adalah akibat dari perbuatan yang mereka lakukan untuk orang lain. Merokok bukan hanya merugikan diri sendiri, terlebih lagi sangat merugikan orang lain. Itu yang membuat saya sangat anti-rokok.

        Sebaik-baiknya orang adalah yang paling memberikan manfaat bagi sekitarnya. Sementara apa yang diberikan oleh perokok? racun, penyakit, dan ketidaknyamanan.

    • anin sindayu
    • August 21st, 2010

    menurut gw orang yang mau berhenti merokok ngga usah datang ke psikiater lagi dik..
    mereka sebenarnya mampu mengendalikan diri.
    Mereka cuma nggak mau.
    Hehehe.
    Ada yang udah 10 tahun merokok, tapi tiba-tiba bisa berhenti.
    ditanya : bagaimana caranya?
    Caranya : Ya saya pengen berhenti aja.
    Dan dia bisa berhenti hingga sekarang.
    Mantabs bukan?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: