Satu Kali dan Selamanya

satu kali dan selamanya

Kemarin tanggal 9 Juni 2010, kedua orangtua saya merayakan Ulang Tahun pernikahan yang ke-34 tahun. Ya, ternyata Bapak dan Ibu udah lama banget ya bersama, dan pastinya keempat anaknya udah gede-gede. Anak pertama umurnya udah 32 tahun, dan anak keempatnya beberapa hari lagi berumur 22 tahun loh (which is saya, hehe).

Nah, hari Rabu malam tanggal 9 Juni, di rumah diadakan semacam syukuran kecil-kecilan. Semua anggota keluarga hadir, kecuali keluarga Mbak Yanti yang tinggal jauh di Pulau Bintan. Dari total 14 orang keluarga Sutikno, 4 nggak bisa dateng, jadi 10 orang dateng termasuk cucu-cucu. Bapak beli cake black forest yang ada tulisannya Happy Anniversary 34th, ditambah mie goreng mas Dar buat makan-makan. Syukuran kali ini berasa beda karena biasanya yah nggak segininya, dan emang ternyata beda rasanya.

Saat semuanya udah ngumpul; Bapak, Ibu, Mas Dody, Teh Tuti, Bitha, Darrell, Mbak Septi, Mas Nur, Rafif, dan saya; syukuran dimulai dengan “kata sambutan” dari Bapak. Biasanya sih Bapak nggak panjang lebar ngomongnya, eh ternyata kali ini Bapak menyampaikan sambutan berupa nasihat dan wejangan yang saya rasa cukup mengena bagi kami semua. Bapak bilang begini, “Menikah dan berumahtangga cukup satu kali dan selamanya, Insya Allah sampai di akhirat nanti”. Bapak juga bilang agar kami semua baik-baik dan tetap dekat sebagai saudara dan keluarga sampai kapanpun. Ya, nasihat singkat itu cukup berkesan bagi saya (dan juga kakak-kakak saya), karena memang jarang Bapak memberi nasihat seperti itu.

“Satu kali dan selamanya”, kalimat itu nyangkut bener di pikiran saya. Yah bisa dibilang kalimat itu seperti mengingatkan saya bahkan pernikahan bukanlah suatu hal sepele dan bisa digampangin. Alhamdulillah saya mempunyai role model pernikahan yang baik dan sukses yaitu pernikahan orangtua saya. Saya jadi bisa mengambil sebanyak mungkin kelebihan dan kekurangannya, yang kemudian akan menjadi bekal saya pada saat mengalaminya nanti.

Selama ini saya selalu menyatakan keinginan saya untuk menyegerakan nikah. Tapi saya jadi tersadar bahwa dengan keadaan saya saat ini, saya “belum pantas” untuk menikah. Saya merasa belum pantas melamar anak gadis orang. Saya merasa belum pantas meminta orang tua saya untuk melamarkan seorang gadis untuk saya. Karena ternyata yang namanya pantas (dan siap) itu bukan hanya dari segi fisik atau materi, tapi juga dari segi kedewasaan dan psikologis. Dalam Islam dikatakan agar para pemuda yang telah mampu agar menyegerakan menikah. Catatannya adalah “yang telah mampu”, dari berbagai aspek. Nah, untuk saat ini saya sih belum cukup yakin akan “mampu” dan “pantas”. Maka dari itu, seiring waktu berjalan saya berusaha untuk meningkatkan kadar “mampu” saya dan “memantaskan diri” saya sambil mempersiapkan segala hal yang diperlukan.

Tak ada lagi sesumbar (dulu sering saya sebut sebagai resolusi atau rencana) untuk menikah tahun ini. Saat ini yang lebih saya butuhkan adalah persiapan dan pemantasan diri, bukan lagi sesumbar seperti yang dulu saya lakukan. Kalo ingat gimana “gede omong” nya saya yang dulu, jadi ketawa deh. Ternyata memang nggak semudah yang dulu saya bayangkan. Banyak aspek yang perlu dipikirin dan itu semua ternyata cukup complicated dan butuh proses.

Sebagai anak bontot/bungsu/terakhir/keempat dari empat bersaudara, sebenarnya saya sangat bisa mengambil banyak pelajaran dari empat pasangan/rumah tangga yang sangat dekat dengan saya. Sebagai observer (pengamat) sekaligus aktor dari rumah tangga orangtua dan ketiga kakak saya, Saya bisa meniru yang baik dan menghindari yang buruk dari rumah tangga itu. Dan sampai saat ini saya masih dan tetap melakukan hal itu, untuk masa depan yang lebih baik.🙂

Tulisan ini bukan curhatan, cuma sekedar catatan yang menjadi pengingat saya akan nasihat Bapak, “Cukup satu kali dan selamanya”. Terima kasih Bapak, Terima kasih Ibu, saya sangat bersyukur bisa dilahirkan di keluarga sederhana dan penuh cinta ini.🙂

  1. ‘gede omong’?! Nama saya tuh😀.

    Saya jg pingin satu kali saja.

    • hahaha…bener juga gung… nama situ kan artinya gede omong😛

      ah yg bener ente mau cuma 1 kali? nggak nyesel? hahaha

  2. Ga mau poligami aja ka? =P *astaghfirullah*

    “segi kedewasaan dan psikologis” -> setuju banget, justru ini yang paling penting kalau menurut saya =)

    “Sebagai anak bontot/bungsu/terakhir/keempat dari empat bersaudara, sebenarnya saya sangat bisa mengambil banyak pelajaran dari empat pasangan/rumah tangga yang sangat dekat dengan saya.”
    Haduh saya anak pertama… cucu pertama pula.. gawat ini, hahaha

    • hahaha… nggak ren, Insya Allah saya orang yang setia kalau sudah menemukan tambatan hati yang tepat. Nah, makanya saya nggak mau main-main nih biar ketemu yang tepat, jd cukup “satu kali dan selamanya”, haha

      banyak orang yang mungkin secara umur dan materi udah siap, tapi dari segi kedewasaan dan psikologis masih kekanak-kanakan…nah itu kalo menurut saya, mereka belum siap…

  3. manggut-manggut aja bacanya :p

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: