Ketika Etika Telah Terlupa – Potret Miris Parlemen Kita

Rabu kemarin (6/1/2010) terjadi suatu kejadian “menarik” pada saat berlangsungnya rapat panitia khusus (pansus) kasus Bank Century di gedung DPR/MPR. Rapat terbuka yang dihadiri oleh para anggota pansus dari beragam fraksi di DPR itu berlangsung panas dan dengan tensi cukup tinggi. Ruhut Sitompul, anggota pansus Bank Century dari fraksi Partai Demokrat (F-PD) bersitegang dengan pimpinan pansus, Gayus Lumbun dari fraksi PDI-Perjuangan (F-PDIP). Perselisihan tersebut diawali oleh Ruhut yang melakukan interupsi dengan keras kepada pimpinan, yaitu Gayus. Hal tersebut dianggap oleh pimpinan rapat sebagai tindakan yang mengganggu jalannya rapat. Akhirnya adu mulut pun berlangsung.

Ruhut menilai pimpinan rapat membatasi hak anggota pansus berpendapat apabila ada yang menyampaikan interupsi yang keras dan tegas. Sayangnya, cara penyampaiannya pun tidak dengan cara yang baik. Layaknya anak muda di pinggir jalan, mereka berdua adu argumen. Ruhut dan Gayus seperti bertukar tantangan berkelahi dengan Ruhut yang memulai. Ada ucapan “Nanti kita selesaikan di luar” dan “Oke, kau jangan kabur ya“, layaknya dua orang anak SMA yang akan berkelahi di luar sekolah selepas jam belajar usai. Dan Ruhut pun tidak berhenti juga bicara, mungkin belum puas ia berkata-kata tajam dan keras. Karena omongan Ruhut mulai keluar dari konteks awal pembicaraan, Gayus sebagai pimpinan rapat bertindak tegas dan bilang “Diam kau!” untuk meminta Ruhut berhenti bicara. Hebatnya, Ruhut malah makin liar dan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor yang tidak pantas, “Ban*sat“. Gayus pun ikut emosi karena dihina. Untungnya ia bisa mengendalikan emosi dan akhirnya rapat bisa dilanjutkan, walau tensinya tetap tinggi.

Ketika saya menonton adegan tersebut di televisi, saya tertawa. Tertawa miris. Tertawa sinis. Menertawai apa yang dilakukan para wakil rakyat di parlemen. Cukup parah hingga kata-kata kasar bisa terucap. Dan pada saat yang sama rapat dan adu mulut tersebut diliput oleh media dan disiarkan ke seluruh Indonesia. Semua rakyat Indonesia bisa melihatnya. Dan mungkin ikut tertawa miris seperti saya.

Memang, dulu pernah ada kejadian yang lebih parah dari sekedar adu mulut dan kata-kata kasar. Masih sangat jelas di ingatan saya, di salah satu rapat DPR atau MPR, terjadi adu jotos dan kekerasan fisik antar anggota dewan. Dan hebatnya kejadian tersebut ditonton oleh puluhan bahkan ratusan juta pasang mata di seluruh Indonesia. Mungkin bila dibandingkan dengan adu jotos yang dulu pernah terjadi, ucapan kasar Ruhut ini dianggap biasa oleh rakyat Indonesia, karena ada yang lebih parah. Namun, sangat disayangkan apabila hal ini terjadi pada para anggota dewan yang baru saja terpilih lewat proses Pemilu langsung yang menghabiskan uang negara milyaran rupiah. Di awal periode tugas mereka, bukannya memberikan hasil yang baik bagi para konstituen yang memilih mereka, malah rakyat disuguhkan dengan adegan adu mulut. Dan lebih parahnya, hanya karena kelakuan segelintir anggotanya, seluruh anggota DPR pun bisa jadi ikut terbawa anggapan buruk masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, saya menganggap itu sebagai sesuatu yang melanggar etika dan keluar dari jalur. Berbeda pendapat boleh saja, asal tetap menghargai pendapat orang lain. Sampaikanlah pendapat dengan cara yang baik, bukan dengan intimidasi atau kata-kata kasar. Hal inilah yang membedakan antara orang-orang yang terpelajar dengan orang yang tidak terpelajar. Ketika belajar, seharusnya seseorang tidak hanya mendapatkan knowledge, tapi juga wisdom. Wisdom itulah yang membuat seseorang yang terpelajar seharusnya lebih bijak dalam menjalani hidup dengan segala lika-likunya. Menggunakan etika dalam bertindak termasuk juga bentuk seseorang berlaku bijak. Dan ketika etika itu sudah terlupakan oleh kita, bisa jadi hasilnya adalah penggunaan kata-kata kasar yang tidak tepat.

Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan untuk kasus kata-kata kasar yang diucapkan Ruhut. Pertama dari Badan Kehormatan DPR RI. Badan Kehormatan atau BK seharusnya bisa menindak tegas apa yang dilakukan oleh Ruhut ini. BK mengatur tata tertib dan etika dalam rapat, sehingga mereka pun berhak untuk menindak anggota dewan yang melanggar aturan tersebut. Caranya bisa dalam bentuk teguran, surat peringatan, atau pemberian sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Pendekatan kedua adalah melalui Fraksi-Partai Demokrat, karena Ruhut adalah anggota F-PD. F-PD dalam hal ini ketua fraksi bisa saja memberikan teguran langsung kepada Ruhut. Atau melalui surat peringatan. Bila tetap tidak bisa diselesaikan, fraksi mempunyai hak untuk memberhentikan anggotanya atau menggantinya dengan yang lain. Rakyat Indonesia sebagai konstituen hanya bisa menunggu tindakan apa yang akan dilakukan baik oleh BK atau oleh F-PD.

Saya yakin, bukan hanya saya saja yang prihatin akan kejadian tersebut. Ini bukan hanya masalah kecil yang cuma terkait dengan ucapan. Lebih dari itu, peristiwa ini perlu menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak mencontohnya. Wahai para wakil rakyat yang terhormat, berikanlah contoh yang baik bagi rakyat Indonesia. Pergunakanlah amanah dan kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia kepada kalian dengan baik dan bertanggungjawab. Semoga para wakil rakyat dapat memegang amanah dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Untuk Indonesia yang lebih baik dan beretika.

  1. menurut gw sih adu mulut ataupun jotos di ruang sidang itu memang kurang beretika, tapi itu jauh lebih baik dibanding yang tidur dan cuma manggut – manggut😛

    • Tarbiyatul banin
    • January 9th, 2010

    ane baca sesuatu yang menarik gann dijawapos

    disurat pembaca dituliskan ==> dpr kayak anak SD yang tidak tahu sopan santun n etika

    besoknya ada tanggapan lain ===> seorang guru sd : tidak pantas dpr disamakan dengan anak sd karena anak SD sekarang tambah pinter dan mendapat tunutnan akhlak dengan baik, seharusnya diamakan ma preman

    nggak tahu besok ada balasn lagi nggak dari preman

    • Tarbiyatul banin
    • January 9th, 2010
  2. mudah2an rasa malu dan miris kita tidak hanya menjadi pernyataan, tapi bisa menjadi suatu pengingatan bahwa kita harus berbuat jauh lebih banyak buat bangsa ini

    • @ mas afif: betul sekali mas…nggak cuma malu tapi juga sadar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: