Gelar Pahlawan Nasional – Sebegitu Pentingkah?

Akhir-akhir ini publik Indonesia sedang ramai membicarakan pemberian gelar pahlawan nasional bagi almarhum KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mulai dari dari menteri, anggota DPR, pemimpin lembaga, pemuka agama, sampai rakyat jelata ramai-ramai menyampaikan usulannya melalui berbagai cara. Ada yang lewat media televisi, media cetak, kampanye di internet lewat facebook, bahkan ada yang sampai berdemonstrasi. Dalam benak saya kemudian muncul satu pertanyaan sederhana mengenai hal ini, sebegitu pentingkah gelar pahlawan nasional tersebut?

Bagi saya pribadi, reaksi prematur dari khalayak ramai mengenai pemberian gelar pahlawan nasional ini patut untuk dicermati. Kenapa saya bilang prematur? Karena bahkan isu mengenai hal ini sudah diperbincangkan hanya beberapa saat setelah Gus Dur wafat. Seakan-akan itulah hal paling penting yang harus diurusi ketika seorang manusia wafat. Padahal menurut saya, banyak hal yang seharusnya lebih mendapat perhatian dari orang-orang, terutama keluarga dan handai taulan dari almarhum.

Kembali ke polemik pemberian gelar pahlawan nasional, saya rasa urusan tersebut tidaklah terlalu urgen untuk dilaksanakan sesegera mungkin. Yang saya herankan adalah mengapa orang-orang ramai meributkan hal ini? Saya rasa almarhum Gus Dur tidaklah sebegitu menginginkan gelar pahlawan nasional diberikan padanya, karena saya tahu beliau adalah seorang tokoh besar bangsa Indonesia. Manusia yang terbaik adalah yang paling bertakwa kepada Allah dan yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, bukan manusia yang diberi gelar pahlawan atau gelar kehormatan lainnya. Dan penghargaan tertinggi adalah penghargaan dari Allah, bukanlah penghargaan dari manusia.

Kemudian muncul lagi pertanyaan, apa sih bedanya antara seorang yang diberi gelar pahlawan nasional dengan yang tidak? Setahu saya (sebagai seorang yang ilmunya masih cetek), privilege yang didapatkan seseorang dengan gelar pahlawan adalah berhak dimakamkan di taman makam pahlawan, berhak dicatat dalam sejarah Indonesia (misalnya buku sejarah di sekolah), dan keluarganya dianggap sebagai keluarga pahlawan. Mungkin hanya itu, mungkin saja lebih. Intinya adalah pengakuan. Saya mendefinisikan gelar “pahlawan” sebagai suatu bentuk legitimasi dan pengakuan atas jasa, peran, dan kontribusi seseorang terhadap suatu pihak (dalam hal ini bangsa Indonesia).

Yang menarik adalah pembandingan antara almarhum Pak Harto dengan Gus Dur. Keduanya sama-sama mantan presiden Indonesia dan keduanya pun telah wafat. Pada saat awal-awal setelah Pak Harto wafat, muncul juga polemik pemberian gelar pahlawan nasional untuk beliau, sama seperti saat ini. Walaupun akhirnya sampai saat ini pun gelar pahlawan nasional untuk Pak Harto belumlah disahkan.

Dulu ketika zaman orde baru, Pak Harto dianggap sebagai seorang pahlawan pembangunan dan dielu-elukan rakyat Indonesia. Kini, ketika pemerintahan bangsa kita berganti rezim, anggapan pahlawan kepada Pak Harto tersebut seperti hilang begitu saja. Saat ini lebih banyak orang yang antipati kepada almarhum Pak Harto. Akibatnya, ketika isu pahlawan nasional bergulir kembali, kali ini setelah wafatnya Gus Dur, banyak yang menentang pemberian gelar pahlawan nasional kepada Pak Harto. Singkat kata, pendapat yang banyak beredar akhir-akhir ini, “Gus Dur oke, Pak Harto nanti dulu.” Gus Dur pantas diberi gelar pahlawan, sementara Pak Harto tidak/belum pantas diberikan gelar tersebut.

Padahal, antara pahlawan dan penjahat itu bedanya tipis. Tergantung dilihat dari sisi mana. Sebagai contoh, Hitler mungkin sangat dikagumi dan dianggap pahlawan super oleh pendukung dan tentaranya. Sementara bagi para korban agresi Hitler di Polandia, mereka menganggap Hitler sebagai seorang penjahat bejat, amoral, dan tidak punya hati nurani. Sekali lagi, pahlawan adalah anggapan dari suatu pihak terhadap seseorang dan tidak berlaku mutlak.

Menurut saya, dan menurut definisi pahlawan yang saya yakini, Gus Dur bukanlah pahlawan. Begitu pula dengan Pak Harto. Mereka mungkin tokoh besar bangsa Indonesia, tapi belum masuk dalam definisi pahlawan. Sekali lagi saya harus meminta maaf kepada para pendukung Gus Dur ataupun pendukung Pak Harto yang membaca tulisan ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, pahlawan atau bukan tergantung dari siapa yang melihat dan dari sisi mana dilihat. Bagi saya, para guru bantu dan guru honorer lebih pantas mendapatkan pengakuan dan perhatian lebih dari pemerintah atas jasa dan pengabdian mereka mencerdaskan bangsa. Atau para pejuang yang namanya tidak tercatat dalam buku sejarah Indonesia, mereka pun pahlawan, yang sayangnya tidak banyak dikenal.

Yang terpenting bukanlah pengakuan atau gelar, namun ilmu dan manfaat yang mereka wariskan kepada kita. Gelar pahlawan tidak akan menjadi tiket masuk surga, beda dengan ilmu yang bermanfaat yang Insya Allah memperberat timbangan kebaikan kita. Jadi, mari kita sama-sama mencontoh kebaikan dan perjuangan para tokoh bangsa dan pahlawan Indonesia. Semoga kita sebagai penerus mereka bisa menjadi pahlawan yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang-orang di sekitar kita. Amin.

    • giyats
    • January 11th, 2010

    Betul, gelar pahlawan bukan tiket ke surga. Tp ingat, apa yg kita perbuat di muka bumi ini adalah tiket ke surga/neraka. Dunia adalah tempat utk mencari bekal utk ke surga/neraka. Tanpa dunia kita tdk akan pernah ke akhirat. Tdk ada hubungan antara pahlawan dan akhirat. Tp apa itu perlu? sama saja, tdk ada kaitannya antara internet dg akhirat.

    • setuju…tapi klo berbuat baik kan harus ikhlas, nggak karena berharap diberi gelar pahlawan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: