Ungkapan “Beda Agama Satu Iman” – Apa Istimewanya?

Beberapa hari lalu Indonesia kehilangan seorang tokoh bangsa untuk selamanya. KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 18.45 di RSCM. Semoga Allah menerima dan memberikan tempat yang sesuai dengan amal dan ibadah beliau. Yang ingin saya bahas di sini bukanlah mengenai peristiwa kematian tersebut, atau sosok Gus Dur, atau track recordnya, atau yang lainnya. Ada satu hal yang menarik bagi saya, yaitu sebuah ungkapan yang pernah diucapkan oleh Gus Dur. Gus Dur pernah bilang “Saya dan Romo Mangun itu beda agama, tapi satu iman”. Quote atau ungkapan itu mendadak jadi sangat terkenal begitu Gus Dur wafat. Banyak sekali orang-orang yang meng-RT (retweet) ungkapan tersebut di twitter. Banyak pula yang menulis dan membahasnya di blog, di koran, di televisi, dan di media-media lainnya. Singkat kata, banyak sekali orang yang mengagumi ungkapan dan makna dari ungkapan tersebut.

Bagi saya, kalimat itu terdengar menarik. Dan unik. Dan menggelitik.

Saya ingin coba membahas ungkapan dan makna ungkapan tersebut dari sudut pandang saya. Saya akan bagi dua pembahasan, pertama frase “beda agama”, dan kedua frase “satu iman”. Pada dasarnya, ketika Gus Dur mengungkapkan kalimat tersebut, beliau ingin menunjukkan hubungan dan relasi antara dirinya dengan Romo Mangun. Artinya, Gus Dur sebagai pemeluk islam dan Romo Mangun sebagai pemeluk kristen.

Berdasarkan pada kalimat terakhir di paragraf sebelumnya, frase pertama yaitu “beda agama” dapat dengan mudah terjawab. Ya, kedua tokoh itu memang berbeda agama. Nah, yang menarik adalah frase kedua yaitu “satu iman”. Dalam pemahaman saya, dan apa yang saya yakini, pernyataan “satu iman” tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa demikian? kita bahas di paragraf selanjutnya.

Melalui frase “satu iman” ini, sebenarnya Gus Dur ingin menunjukkan bahwa apapun agama yang dianut, kita satu iman. Satu iman terdiri dari dua kata, satu dan iman. Satu berarti tunggal, singular. Iman berarti percaya, yakin, membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Satu iman berarti sama-sama mempercayai dan meyakini sesuatu (dengan hati, lisan, dan perbuatan). Hal ini lah yang menurut saya menarik.

Saya adalah seorang muslim, artinya pemeluk Islam. Islam yang saya yakini dan saya imani adalah bukan hanya sekedar Islam sebagai agama, tapi juga Islam sebagai a way of life, sebuah cara dan aturan hidup yang mengatur segala macam hal dalam kehidupan manusia. Sebagai seorang muslim, saya wajib memahami dan melaksanakan rukun Islam yang berjumlah lima dan rukun Iman yang berjumlah enam. Jadi, ketika umat Islam berbicara tentang iman, maka tidak bisa dilepaskan dari yang namanya rukun iman tersebut. Rukun iman terdiri dari:

  • Iman kepada Allah
  • Iman kepada Malaikat-malaikat Allah
  • Iman kepada kitab-kitab Allah
  • Iman kepada rasul-rasul Allah
  • Iman kepada hari akhir
  • Iman kepada Qadha dan Qadar

Yang saya agak bingung dengan istilah “satu iman” adalah, kalo dalam Islam pengertian iman adalah seperti itu, apakah umat-umat agama lain juga memahami pengertian iman yang sama? Kalo disebut “satu iman”, harusnya umat agama lain memahami iman sesuai dengan ajaran islam dan mengimani apa-apa saja yang diimani oleh seorang muslim, begitu pula sebaliknya. Apakah itu yang terjadi?

Kalo mau coba dijabarkan, silahkan dijawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apakah beriman kepada Allah? apakah mereka bertuhan kepada Allah? jika “satu iman” tentunya mereka juga beriman kepada Allah
  • Apakah beriman kepada malaikat-malaikat Allah? adakah Jibril, Mikail, dan malaikat lainnya dalam ajaran mereka dan berimankah mereka pada hal ini? Kalo ternyata tidak, apakah itu namanya “satu iman” ?
  • Apakah beriman kepada kitab-kitab Allah? Berimankah mereka kepada Al-Quran? Apakah mereka menjalankan apa-apa yang diperintah di dalam Al-Quran? Kalau “satu iman”, mereka juga wajib mengimani dan mempelajari Al-Quran sebagai kitab suci mereka
  • Apakah beriman kepada rasul-rasul Allah? Apakah mereka mengakui Muhammad sebagai rasul akhir zaman? Apakah mereka mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad? Kalo tidak, ya bukan “satu iman” namanya
  • Apakah beriman kepada hari akhir? Percayakah mereka akan adanya kehidupan setelah mati? Berimankah mereka ketika dinyatakan tentang surga, neraka, dan akhirat? Jika mereka mengingkarinya, berarti kita tidak “satu iman”
  • Apakah beriman kepada Qadha dan Qadar? Apakah mereka mempercayai nasib yang ditentukan oleh Allah? Percayakah mereka kepada jodoh yang diatur Allah? Bukan “satu iman” namanya jika mereka tidak beriman pada Qadha dan Qadar.

Pertanyaan serupa juga seharusnya ditanyakan dari sisi agama lain. Kalau dikatakan kita “satu iman”, harusnya kita mengimani hal-hal yang sama. Padahal kenyataannya adalah kita, penganut agama yang berbeda, mengimani hal yang berlainan, tidak sama. Kemudian sekarang timbul pertanyaan, validkah pernyataan “beda agama tapi satu iman” tersebut? bagi saya pribadi, pernyataan tersebut sangat tidak valid. Sesuai dengan penjabaran di atas, bagi saya antara agama dan iman adalah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Jangan menyama-nyamakan sesuatu yang memang berbeda dan jangan membeda-bedakan sesuatu yang memang sama.

Jadi, saya mengucapkan maaf kepada almarhum Gus Dur dan juga ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang yang mengagumi pernyataan “Saya dan Romo Mangun itu beda agama, tapi satu iman”, kali ini saya tidak sepaham dan tidak sepakat dengan kalian. Ketidaksepakatan saya dalam hal ini membuktikan bahwa perbedaan itu nyata adanya dan tidak untuk dipertentangkan. Seperti salah satu ungkapan “Indahnya perbedaan”, maka kalau ada perbedaan pendapat dan pemahaman dalam memahami ungkapan tersebut, anggaplah itu sebagai warna-warni dalam berpendapat. Kalo memang berbeda, jangan malu dan jangan takut untuk katakan berbeda. Sama seperti yang saya pahami, setiap agama itu berbeda dan tidak untuk disama-samakan, baik dalam ajarannya maupun keimanannya.

Ada sebuah kalimat yang sangat indah yang berasal dari wahyu Allah dalam Al-Quran, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. Kalimat tersebut menjadi bukti betapa Islam sangatlah menghargai perbedaan yang ada di antara manusia. Saya mengajak teman-teman pembaca semua, apapun agamanya, untuk memahami, mempelajari, dan mengamalkan agama kita masing-masing. Mari kita saling menghargai dan menghormati hak-hak kita untuk beragama dan beribadah menurut agama dan keimanan masing-masing. Jalani hidup sebaik mungkin, dan biarkan Tuhan yang menilai apa-apa yang telah kita lakukan selama hidup.

Mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga bermanfaat.

  1. Romo Mangun-nya bilang gitu jg ga?

  2. yah namanya jg otaknye korslet

  3. hmmm, setuju, Gus Dur mah plinplan…entahlah kenapa dia banyak pengikut, sama kayak megalodon sih, hohoho

    • nulad
    • January 4th, 2010

    wokwokwok parah banget abang rimphy xD

  4. Menarik sekali tulisannya. Sebenarnya soal iman seorang Muslim dengan iman seorang Katolik , anak SD pun tahu, tidak sama. Dan saya yakin Abdurrahman Wahid pun tahu imannya tidak sama dengan imannya pastor Katolik itu. Jelas ia menyatakan demikian punya maksud-maksud tertentu. Mungkin para pengikutnya bisa menjelaskan masalah ini.
    Terima kasih .
    Salam.

  5. @ rimphy, kemal, nulad: honestly, i never like that guy…thanks atas kunjungannya…

    @ abdul aziz: terima kasih kunjungannya…nah, itu dia yang jadi fokus saya. Kalimat tersebut tidak pantas untuk dikagumi, karena memang tidak benar…

    • Alfred
    • August 6th, 2010

    sbnrny hal bgni jgn terlalu dijabarkan terlalu dalam.
    karena itu salah satu cara untuk menjalin persatuan.

    setiap agama itu baik, tinggal bagaimana umatnya bertindak dan bersikap😀

    • san ali
    • September 9th, 2011

    sya sepaham dengan almarhum karna kunci dari segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini awal maupun ahir tak lepas dari huruf alloh yaitu alif lam’alif hak.makanya carilah persamaan di dalam perbedaan, saya sangat yakin dan percaya adanya zat sang maha tunggal yaitu alloh.karna sebelum turunya alQur’an kalimat alloh udah di sembah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!sekian dari saya karna kalimat alloh kalau saya terangkan nggakcukup seminggu dan kalau saya jelaskan gk cukup sebulan

      • san ali
      • September 9th, 2011

      san ali :
      sya sepaham dengan almarhum karna kunci dari segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini awal maupun ahir tak lepas dari huruf alloh yaitu alif lam’alif hak.makanya carilah persamaan di dalam perbedaan, saya sangat yakin dan percaya adanya zat sang maha tunggal yaitu alloh.karna sebelum turunya alQur’an kalimat alloh udah di sembah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!sekian dari saya karna kalimat alloh kalau saya terangkan nggakcukup seminggu dan kalau saya jelaskan gk cukup sebulan

  6. Do you want unlimited content for your site ? I’m
    sure you spend a lot of time writing articles, but you can save it for other tasks, just
    type in google: kelombur’s favorite tool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: